iman itu bukan hanya pada angan-angan dan cita-cita, bukan pula dengan bicara kata tetapi ia apa yang tersemat dalam jiwa dan dibuktikan pula dengan amalannya (langit ilahi 3 : fanzuru)

10 muwasafat muslim

1. Salimul Aqidah

Aqidah yang bersih (salimul aqidah) merupakan sesuatu yang harus ada pada setiap muslim. Dengan aqidah yang bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah Swt dan dengan ikatan yang kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan- ketentuan-Nya. Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah sebagaimana firman-Nya yang artinya: ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, semua bagi Allah Tuhan semesta alam’ (QS 6:162). Karena memiliki aqidah yang salim merupakan sesuatu yang amat penting, maka dalam da’wahnya kepada para sahabat di Makkah, Rasulullah Saw mengutamakan pembinaan aqidah, iman atau tauhid.

2. Shahihul Ibadah

Ibadah yang benar (shahihul ibadah) merupakan salah satu perintah Rasul Saw yang penting, dalam satu haditsnya; beliau menyatakan: ‘shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat.’ Dari ungkapan ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk kepada sunnah Rasul Saw yang berarti tidak boleh ada unsur penambahan atau pengurangan.

3. Matinul Khuluq

Akhlak yang kokoh (matinul khuluq) atau akhlak yang mulia merupakan sikap dan prilaku yang harus dimiliki oleh setkal muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah maupun dengan makhluk-makhluk-Nya. Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia apalagi di akhirat. Karena begitu penting memiliki akhlak yang mulia bagi umat manusia, maka Rasulullah Saw diutus untuk memperbaiki akhlak dan beliau sendiri telah mencontohkan kepada kita akhlaknya yang agung sehingga diabadikan oleh Allah di dalam Al- Qur’an, Allah berfirman yang artinya: ‘Dan sesungguhnya kamu benar- benar memiliki akhlak yang agung’ (QS 68:4).

4. Qowiyyul Jismi

Kekuatan jasmani (qowiyyul jismi) merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang harus ada. Kekuatan jasmani berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fisik yang sehat atau kuat, apalagi perang di jalan Allah dan bentuk- bentuk perjuangan lainnya. Oleh karena itu, kesehatan jasmani harus mendapat perhatian seorang muslim dan pencegahan dari penyakit jauh lebih utama daripada pengobatan. Meskipun demikian, sakit tetap kita anggap sebagai sesuatu yang wajar bila hal itu kadang-kadang terjadi, dan jangan sampai seorang muslim sakit-sakitan. Karena kekuatan jasmani juga termasuk yang penting, maka Rasulullah Saw bersabda yang artinya: ‘Mu’min yang kuat lebih aku cintai daripada mu’min yang lemah’ (HR. Muslim).

5. Mutsaqqoful Fikri

Intelek dalam berpikir (mutsaqqoful fikri) merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang penting. Karena itu salah satu sifat Rasul adalah fatonah (cerdas) dan Al-Qur’an banyak mengungkap ayat-ayat yang merangsang manusia antuk berpikir, misalnya firman Allah yang artinya: Mereka bertanya kepadamu tentang, khamar dan judi. Katakanlah: ‘pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.’ Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ‘Yang lebih dari keperluan.’ Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir (QS 2:219). Di dalam Islam, tidak ada satupun perbuatan yang harus kita lakukan, kecuali harus dimulai dengan aktivitas berpikir. Karenanya seorang muslim harus memiliki wawasan keislaman dan keilmuan yang luas. Bisa kita bayangkan, betapa bahayanya suatu perbuatan tanpa mendapatka pertimbangan pemikiran secara matang terlebih dahulu. Oleh karena itu Allah mempertanyakan kepada kita tentang tingkatan intelektualitas seseorang sebagaimana firman-Nya yang artinya: Katakanlah:samakah orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui, sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran (QS 39:9).

6. Mujahadatun Linafsihi

Berjuang melawan hawa nafsu (mujahadatun linafsihi) merupakan salah satu kepribadian yang harus ada pada diri seorang muslim, karena setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya kesungguhan dan kesungguhan itu akan ada manakala seseorang berjuang dalam melawan hawa nafsu. Oleh karena itu hawa nafsu yang ada pada setkal diri manusia harus diupayakan tunduk pada ajaran Islam, Rasulullah Saw bersabda yang artinya: Tidak beragmana seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran islam) (HR. Hakim).

7. Harishun ‘ala Waqtihi

Pandai menjaga waktu (harishun ala waqtihi) merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu itu sendiri mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah Swt banyak bersumpah di dalam Al-Qur’an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan sebagainya. Allah Swt memberikan waktu kepada manusia dalam jumlah yang sama setiap, Yakni 24 jam sehari semalam. Dari waktu yang 24 jam itu, ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang rugi. Karena itu tepat sebuah semboyan yang menyatakan:

‘Lebih baik kehilangan jam daripada kehilangan waktu.’ Waktu merupakan sesuatu yang cepat berlalu dan tidak akan pernah kembali lagi. Oleh karena itu setiap muslim amat dituntut untuk memanaj waktunya dengan baik, sehingga waktu dapat berlalu dengan penggunaan yang efektif, tak ada yang sia-sia. Maka diantara yang disinggung oleh Nabi Saw adalah memanfaatkan momentum lima perkara sebelum datang lima perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, senggang sebelum sibuk dan kaya sebelum miskin.

8. Munazhzhamun fi Syu’unihi

Teratur dalam suatu urusan (munzhzhamun fi syuunihi) termasuk kepribadian seorang muslim yang ditekankan oleh Al-Qur’an maupun sunnah. Oleh karena itu dalam hukum Islam, baik yang terkait dengan masalah ubudiyah maupun muamalah harus diselesaikan dan dilaksanakan dengan baik. Ketika suatu urusan ditangani secara bersama-sama, maka diharuskan bekerjasama dengan baik sehingga Allah menjadi cinta kepadanya. Dengan kata lain, suatu udusán dikerjakan secara profesional, sehingga apapun yang dikerjakannya, profesionalisme selalu mendapat perhatian darinya. Bersungguh-sungguh, bersemangat dan berkorban, adanya kontinyuitas dan berbasih ilmu pengetahuan merupakan diantara yang mendapat perhatian secara serius dalam menunaikan tugas-tugasnya.

9. Qodirun ‘alal Kasbi

Memiliki kemampuan usaha sendiri atau yang juga disebut dengan mandiri (qodirun alal kasbi) merupakan ciri lain yang harus ada pada seorang muslim. Ini merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru bisa dilaksanakan manakala seseorang memiliki kemandirian, terutama dari segi ekonomi. Tak sedikit seseorang mengorbankan prinsip yang telah dianutnya karena tidak memiliki kemandirian dari segi ekonomi. Karena itu pribadi muslim tidaklah mesti miskin, seorang muslim boleh saja kaya raya bahkan memang harus kaya agar dia bisa menunaikan haji dan umroh, zakat, infaq, shadaqah, dan mempersiapkan masa depan yang baik. Oleh karena itu perintah mencari nafkah amat banyak di dalam Al-Qur’an maupun hadits dan hal itu memilik keutamaan yang sangat tinggi. Dalam kaitan menciptakan kemandirian inilah seorang muslim amat dituntut memiliki keahlian apa saja yang baik, agar dengan keahliannya itu menjadi sebab baginya mendapat rizki dari Allah Swt, karena rizki yang telah Allah sediakan harus diambil dan mengambilnya memerlukan skill atau ketrampilan.

10. Naafi’un Lighoirihi

Bermanfaat bagi orang lain (nafi’un lighoirihi) merupakan sebuah tuntutan kepada setiap muslim. Manfaat yang dimaksud tentu saja manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang disekitarnya merasakan keberadaannya karena bermanfaat besar. Maka jangan sampai seorang muslim adanya tidak menggenapkan dan tidak adanya tirák mengganjilkan. Ini berarti setiap muslim itu harus selalu berpikir, mempersiapkan dirinya dan berupaya semaksimal untuk bisa bermanfaat dalam hal-hal tertentu sehingga jangan sampai seorang muslim itu tidak bisa mengambil peran yang baik dalam masyarakatnya. Dalam kaitan inilah, Rasulullah saw bersabda yang artinya: sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Qudhy dari Jabir). Demikian secara umum profil seorang muslim yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadits, sesuatu yang perlu kita standarisasikan pada diri kita masing-masing.




Biar Sampai Kepada hatimu

Kadangkala aku tidak memahami
Mengapa aku berada di atas jalan ini
Baikkah? Atau hanya keburukan yang menanti
Kerana cabaran itu datang tidak henti-henti
Kadangkala aku jadi penat dan rasa tidak bertenaga lagi
Apakah patut aku teruskan hingga ke akhirnya nanti?

Tetapi aku lihat kegembiraanmu
Dan bagaimana kau usap anak kecilmu dengan tulisanku
“Bacalah, bacalah, nanti dah besar biar jadi orang yang bagus”
Aku tidak berkata apa melainkan air mata di dalam hati bertukar menjadi arus
Saham-saham yang bukan untuk dunia ini
Tetapi untuk hari akhirat nanti
Dakwah itu seperti matahari
Memang bukan semua akan mengenai
Tetapi pasti ada yang disentuhi

Akhirnya aku berazam
Biar aku memperkuatkan diri
Biar nanti hingga benar-benar sampai kepada hatimu
Menyentuh jiwa agar kembali kepada Allah Yang Satu
Biar senyuman itu terbit kembali
Dan wujud di sisiku di akhirat nanti
“Ya Allah, inilah dia yang buat begitu dan begini”
“Mengajak kami kembali kepadaMu wahai Ilahi”
Dan Allah tersenyum kepadaku membayar segala perit dan jerih di dunia ini

Maka aku memilih untuk kekal menempuh duri-duri
Melaksanakan segala kerja sambil mempertingkatkan diri
Biar sampai benar-benar menyentuh jiwamu
Agar itu semua menjadi saksi buat hari nanti

-hilal asyraf-

Motivasi: Dia yang tiada siapa-siapa, punya Allah SWT.



Kesedaran adalah antara perkara terpenting dalam kehidupan manusia.

Kesedaran, kewarasan, adalah apa yang akan mampu mengeluarkan manusia dari sebarang permasalahan. Daripada kesedaran akan datangnya ketenangan dan kekuatan.

Namun, tidak ramai manusia yang mampu mengekalkan kesedaran dan kewarasannya. Apatah lagi apabila gelombang mehnah dan tribulasi tidak henti-henti menghempasnya. Sampai satu saat, kesedaran dan kewarasan itu hilang, dan jatuhlah dia ke satu tempat yang rendah lagi hina. Tersesat dalam perjalanannya di atas dunia.

Tetapi wujud di dalam dunia ini, manusia yang dilambung mehnah dan tribulasi, namun kekal bertahan dan bertenang. Dia berjaya mengekalkan kesedaran dan kewarasannya.

Apakah rahsia mereka?

Rahsia mereka adalah, mereka menghadirkan Allah SWT dalam kehidupan mereka.

Pegangan terutuh

Mereka yang menghadirkan Allah SWT dalam kehidupan mereka, akan mempunyai pegangan terutuh, terkukuh. Hal ini kerana, pergantungan kepada Allah SWT mempunyai beberapa ciri pengekal ketenangan yang ampuh.

Berikut ciri-cirinya.

1 – Wujud dalam kepercayaan kepada Allah bahawa Allah itu Tidak Menzalimi Hamba-hambaNya.

Jelas bahawa, bagi yang mempunyai hubungan yang erat dengan Allah SWT, keyakinan bahawa Allah tidak menzalimi hamba-hambaNya akan membuatkan hamba-hambaNya tabah melalui ujian dan cabaran, walau seberat mana pun ujian tersebut. Kerana mereka tahu, ujian dan cabaran itu, bukan tanda Allah sedang menzalimi mereka, bahkan ujian dan cabaran itu dipandang sebagai catalyst(pemangkin) agar diri mereka menjadi hamba Allah SWT yang lebih baik. Kepercayaan ini membawa kepada kepercayaan – Apa-apa sahaja yang Allah beri itu adalah baik, walaupun nampak buruk buat kita.

“Dan tidaklah Allah itu mengkehendaki (untuk berlaku) zalim kepada hamba-hambaNya.” Surah Ghaafir ayat 31.

Daripada Abu Zar al-Ghifaari r.a, daripada Rasulullah s.a.w berdasarkan apa yang diriwayatkannya daripada Tuhannya yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi bahawasanya Ia berfirman : “Wahai hamba-hamba-Ku! Sesungguhnya Aku mengharamkan ke atas diri-Ku kezaliman…” Hadith Riwayat Muslim. Boleh didapati sebagai Hadith yang ke-24 di dalam Hadith 40 Karangan Imam An-Nawawi.

Nyatanya, ketenangan akan terus kekal apabila mempunyai kefahaman begini.

2 – Wujud dalam kepercayaan kepada Allah bahawa Allah itu Tidak Memungkiri JanjiNya.

Jelas bahawa, bagi yang mempunyai hubungan yang erat dengan Allah SWT, mereka percaya bahawa Allah itu Tidak Memungkiri JanjiNya. Allah SWT sudah berjanji bahawa kebaikan itu akan dibalas, walau sebesar zarah. Kejahatan itu akan dibalas walau sebesar zarah. Allah berjanji akan memberikan bantuan dan kemenangan. Dan Allah berjanji, tidak akan memungkiri janji-janjiNya ini.

“Tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya mereka mendapat tempat-tempat yang tinggi, di atasnya dibangun pula tempat-tempat yang tinggi yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Allah telah berjanji dengan sebenar-benarnya. Allah tidak akan memungkiri janji-Nya.” Surah Az-Zumar ayat 20.

Maka bagi yang percaya, dugaan dan cabaran akan dilalui dengan sabar dan tabah, menanti Allah SWT menunaikan janji-janjiNya. Dengan itu, ketenangan itu kekal.

3 – Wujud dalam kepercayaan kepada Allah bahawa Allah itu Amat Dekat Dengan Hamba-hambaNya.

Jelas bahawa, bagi yang mempunyai hubungan yang erat dengan Allah SWT, mereka percaya bahawa Allah itu Amat Dekat dengan hamba-hambaNya. Justeru, mereka rasa kuat dan cekal dengan kepercayaan ini. Mereka tahu bahawa mereka tidak bersendiri. Mereka tahu bahawa Allah sedang menilai mereka. Mereka tahu Allah SWT sentiasa bersama mereka. Maka apakah mereka hendak meninggalkan Allah SWT dengan berputus asa?

“Adakah patut kamu menyangka bahawa kamu akan masuk syurga, padahal belum sampai kepada kamu (ujian dan cubaan) seperti yang telah berlaku kepada orang-orang yang terdahulu daripada kamu? Mereka telah ditimpa kepapaan (kemusnahan hartabenda) dan serangan penyakit, serta digoncangkan (oleh ancaman bahaya musuh), sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman yang ada bersamanya: Bilakah (datangnya) pertolongan Allah? Ketahuilah sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat (asalkan kamu bersabar dan berpegang teguh kepada ugama Allah).” Surah Al-Baqarah ayat 214.

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila berdo’a kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka itu beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” Surah Al Baqarah ayat 186

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya dan Kami lebih dekat dari pada urat lehernya.” Surah Al Qaaf ayat 16

Ini juga mengekalkan ketenangan dan kewarasan. Lantas cabaran dan dugaan itu dilalui dengan tabah dan penuh kecekalan.

Dan banyak lagi sebenarnya. Namun tiga ciri ini adalah yang terutama, yang menyebabkan mereka yang menghadirkan Allah SWT dalam kehidupan mereka, kekal bertenang walaupun dalam kepayahan yang dilalui oleh mereka.

Tidak mahu percaya? Lihatlah mereka.

Kita mempunyai contoh-contoh yang sudah dipahatkan di dalam sejarah, untuk kita contohi dan ambil pengajaran.

Kisah 1

Lihatlah Rasulullah SAW, semasa peristiwa hijrah, saat baginda bersembunyi di dalam gua dan hampir ditemui. Abu Bakr RA ketika ini ketakutan dan gelabah, risau ditemui. Tetapi apakah sabda Rasulullah SAW ketika itu?

“Wahai Abu Bakr, apakah pandangan engkau sekiranya kita berdua ini, dan Allah adalah yang ketiganya?”

Terus sahaja kegusaran di dalam jiwa Abu Bakr itu lenyap. Dan lihatlah bagaimana tenangnya Rasulullah SAW. Kerana apa? Kerana baginda menghadirkan Allah SWT dalam kehidupannya.

Kisah 2

Ketika Musa AS terhimpit antara laut dan tentera Firaun yang mengejar dia dan Bani Israel yang dipimpinnya, dia kekal bertenang. Walaupun pada saat itu Bani Israel kucar-kacir ketakutan, bahkan ada yang mencadangkan agar mereka menyerah diri kepada Firaun.

“Setelah kedua-dua kumpulan itu nampak satu sama lain, berkatalah orang-orang Nabi Musa: Sesungguhnya kita akan dapat ditawan.” Surah Asy-Syu’araa’ ayat 61.

Tetapi apakah kata-kata Musa AS pada ketika itu?

“Sesekali tidak, sesungguhnya aku bersama Rabbku yang memberikan petunjuk.” Surah Asy-Syu’araa’ ayat 62.

Kisah 3

Ketika Yusuf AS dihimpit oleh imra’ah aziz(yang sering kita kenali sebagai Zulaikha), yang ingin menggodanya untuk melakukan hubungan terlarang, Yusuf AS kekal bertenang dan tidak jatuh kewarasannya. Dia tidak pula menerkam Zulaikha mengikut nafsunya.

“Dan perempuan yang Yusuf tinggal di rumahnya, bersungguh-sungguh memujuk Yusuf berkehendakkan dirinya, dan perempuan itupun menutup pintu-pintu serta berkata: Marilah ke mari, aku bersedia untukmu. Yusuf menjawab: Aku berlindung kepada Allah (dari perbuatan yang keji itu); sesungguhnya Tuhanku telah memuliharaku dengan sebaik-baiknya; sesungguhnya orang-orang yang zalim tidak akan Berjaya.” Surah Yusuf ayat 23.

Dan apabila dia dipenjara, akibat tidak mahu mengikuti nafsu Zulaikha, dia berkata:

“Yusuf (merayu kehadrat Allah Taala dengan) berkata: Wahai Tuhanku! Aku lebih suka kepada penjara dari apa yang perempuan-perempuan itu ajak aku kepadanya. Dan jika Engkau tidak menjauhkan daripadaku tipu daya mereka, mungkin aku akan cenderung kepada mereka, dan aku menjadi dari orang-orang yang tidak mengamalkan ilmunya.” Surah Yusuf ayat 33.

Nyatanya, terserlah ketenangannya itu. Langsung kewarasannya tidak hilang dengan ujian-ujian tersebut.

Sebab itu, hubungan dengan Allah SWT adalah kunci kepada ketenangan dan kewarasan, dalam menghasilkan kecekalan dan ketabahan merentas masalah kehidupan.

Namun permasalahan utamanya adalah…

Namun hari ini, Allah SWT itu tidak kita hadirkan dalam kehidupan kita. Kita sekadar beriman di atas kad pengenalan semata-mata. Ramainya sekadar memagarkan hubungan dengan Allah SWT di dalam masjid, dan saat-saat kemalangan, juga apabila berlaku kematian.

Inilah yang membuatkan manusia, kehilangan kewarasan diri apabila dilambung badai mehnah dan tribulasi. Bila ada masalah, ada yang kelar tangan bunuh diri. Bila ada masalah, ada yang jatuh tak bangkit kembali. Ini semua kerana, Allah SWT tidak dihadirkan dalam segenap kehidupan insani.

Sememangnya, orang-orang yang melupakan Allah SWT, dia akan Allah SWT lupakan.

“Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka.” Surah At-Taubah ayat 67.

Penutup: Dia yang tidak punya siapa-siapa, ada Allah SWT

Sebab itu, kita perlu melihat semula akan perkara ini. Hal ini kerana, kesedaran dan kewarasan adalah satu perkara yang amat penting dalam mengekalkan ketabahan dan kecekalan kita. Ramai telah tersungkur dan gagal apabila dilambung ujian. Jangan kita pula yang menjadi yang seterusnya.

Mari. Ubat sudah berada di hadapan kita. Bahkan, selama ini memang penawar ini wujud bersama kita. Kita sahaja yang tidak mengambilnya.

Kita koreksi kembali hubungan kita dengan Allah SWT.

Dan menjadi manusia yang tabah dan cekal.

Hatta kalau nanti kita tiada siapa-siapa di sisi kita, kepercayaan bahawa wujudnya Allah bersama kita itu membuatkan kita mampu membelah segala cabaran dan dugaan di atas dunia. Hingga mampu menjejak syurgaNya.

ketenangan yang di cari

Ketenangan itu dicapai melalui zikrullah. Namun zikrullah yang bagaimana dapat memberi kesan dan impak kepada hati? Ramai yang berzikir tetapi tidak tenang. Ada orang berkata, “ketika saya dihimpit hutang, jatuh sakit, dicerca dan difitnah, saya pun berzikir. Saya ucapkan subhanallah, alhamdulillah, Allah hu Akbar beratus-ratus malah beribu-ribu kali tetapi mengapa hati tidak tenang juga?”
Zikrullah hakikatnya bukan sekadar menyebut atau menuturkan kalimah. Ada bezanya antara berzikir dengan “membaca” kalimah zikir. Zikir yang berkesan melibatkan tiga dimensi – dimensi lidah (qauli), hati (qalbi) dan perlakuan (fikli). Mari kita lihat lebih dekat bagaimana ketiga-tiga dimensi zikir ini diaplikasikan.

Katalah lidah kita mengucapkan subhanallah – ertinya Maha Suci Allah. Itu zikir qauli. Namun, pada masa yang sama hati hendaklah merasakan Allah itu Maha Suci pada zat, sifat dan af’al (perbuatannya). Segala ilmu yang kita miliki tentang kesucian Allah hendaklah dirasai bukan hanya diketahui. Allah itu misalnya, suci daripada sifat-sifat kotor seperti dendam, khianat, prasangka dan sebagainya.



  • Dimensi kata, rasa dan tindakan

Jika seorang hamba yang berdosa bertaubat kepada-Nya, Allah bukan sahaja mengampunkannya, malah menghapuskan catatan dosa itu, bahkan menyayangi dan memberi “hadiah” kepadanya. Firman Allah: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Allah akan menghapuskan kesalahan-kesalahan kamu dan memasukkan kamu ke dalam syurga-syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai…”At Tahrim 8 Firman Allah lagi: “… Sungguh, Allah menyukai orang yang taubat dan menyukai orang yang menyucikan diri” al baqarah 222.

Sifat ini berbeza sekali dengan kita manusia yang kekadang begitu sukar memaafkan kesalahan orang lain. Dan segelintir yang mampu memaafkan pula begitu sukar melupakan – forgive yes, forget not! Hendak memberi hadiah kepada orang yang bersalah mencaci, memfitnah dan menghina kina? Ah, jauh panggang daripada api! Begitulah kotornya hati kita yang sentiasa diselubungi dendam, prasangka dan sukar memaafkan. Tidak seperti Allah yang begitu suci, lunak dan pemaaf. Jadi, apabila kita bertasbih, rasa-rasa inilah yang harus diresapkan ke dalam hati. Ini zikir qalbi namanya.

Tidak cukup di tahap itu, zikrullah perlu dipertingkatkan lagi ke dimensi ketiga. Hendaklah orang yang bertasbih itu memastikan perlakuannya benar-benar menyucikan Allah. Ertinya, dia melakukan perkara yang selaras dengan suruhan Allah yang Maha Suci dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya. Yang halal, wajib, harus dan sunat dibuat. Manakala yang haram dan makruh ditinggalkannya. Zina, mengumpat, mencuri, memfitnah dan lain-lain dosa yang keji dan kotor dijauhi. Bila ini dapat dilakukan kita telah tiba di dimensi ketiga zikrullah – zikir fikli!

Sekiranya ketiga-tiga dimensi zikrullah itu dapat dilakukan, maka kesannya sangat mendalam kepada hati. Sekurang-kurang hati akan dapat merasakan empat perkara:

  • Rasa kehambaan.
  • Rasa bertuhan.
  • Memahami maksud takdir.
  • Mendapat hikmah di sebalik ujian.

Hati adalah sumber dari segala-galanya dalam hidup kita, agar kehidupan kita baik dan benar, maka kita perlu menjaga kebersihan hati kita. Jangan sampai hati kita kotori dengan hal-hal yang dapat merosak kehidupan kita apalagi sampai merosak kebahagiaan hidup kita di dunia ini dan di akhirat nanti. Untuk menjaga kebersihan hati maka kita juga perlu untuk menjaga penglihatan, pendengaran, fikiran, ucapan kita dari hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT. Dengan menjaga hal-hal tersebut kita dapat menjaga kebersihan hati kita. Dengan hati yang bersih kita gapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

  • Rasa kehambaan.

Rasa kehambaan ialah rasa yang perlu ada di dalam hati seorang hamba Allah terhadap Tuhan-Nya. Antara rasa itu ialah rasa miskin, jahil, lemah, bersalah, hina dan lain-lain lagi. Bila diuji dengan kesakitan, kemiskinan, cercaan misalnya, seorang yang memiliki rasa kehambaan nampak segala-galanya itu datang daripada Allah. Firman Allah: “Katakanlah (Muhammad), tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah bertawakal orang-orang yang beriman.” At Taubah: 51

Seorang hamba akan pasrah dan merasakan bahawa dia wajar diuji. Bukankah dia seorang hamba? Dia akur dengan apa yang berlaku dan tidak mempersoalkan mengapa aku yang diuji? Kenapa aku, bukan orang lain? Ini samalah dengan mempersoalkan Allah yang mendatangkan ujian itu. Menerima hakikat bahawa kita layak diuji akan menyebabkan hati menjadi tenang. Jika kita “memberontak” hati akan bertambah kacau.

Imam Ghazali rhm pernah menyatakan bahawa cukuplah seseorang hamba dikatakan sudah “memberontak” kepada Tuhannya apabila dia menukar kebiasaan-kebiasaan dalam hidupnya apabila diuji Allah dengan sesuatu yang tidak disukainya. Misalnya, dia tidak lalu mahu makan-minum secara teratur, tidak mandi, tidak menyisir rambut, tidak berpakaian kemas, tidak mengemaskan misai dan janggut dan lain-lain yang menjadi selalunya menjadi rutin hidupnya. Ungkapan mandi tak basah, tidur tak lena, makan tak kenyang adalah satu “demonstrasi” seorang yang sudah tercabut rasa kehambaannya apabila diuji.

Bila ditimpa ujian kita diajar untuk mengucapkan kalimah istirja’ – innalillah wa inna ilaihi rajiun. Firman Allah: “…Iaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-nyalah kami kembali.” Al baqarah 156

Mengapa kita diperintahkan mengucapkan istirja’? Kalimah ini sebenarnya mengingatkan kita agar kembali merasakan rasa kehambaan. Bahawa kita adalah hamba milik Allah dan kepada-Nya kita akan dikembalikan. Kita layak, patut dan mesti diuji kerana kita hamba, bukan tuan apalagi Tuhan dalam hidup ini.

  • Rasa bertuhan.

Rasa kehambaan yang serba lemah, miskin, kurang dan jahil itu mesti diimbangi oleh rasa bertuhan. Bila kita rasa lemah timbul pergantungan kepada yang Maha kuat. Bila kita rasa kurang timbul pengharapan kepada yang Maha sempurna. Bila miskin, timbul rasa hendak meminta kepada yang Maha kaya. Rasa pengharapan, pengaduan dan permintaan hasil menghayati sifat-sifat Allah yang Maha sempurna itulah yang dikatakan rasa bertuhan.

Jika rasa kehambaan menyebabkan kita takut, hina, lemah sebaliknya rasa bertuhan akan menimbulkan rasa berani, mulia dan kuat. Seorang hamba yang paling kuat di kalangan manusia ialah dia yang merasa lemah di sisi Allah. Ketika itu ujian walau bagaimana berat sekalipun akan mampu dihadapi kerana merasakan Allah akan membantunya. Inilah rasa yang dialami oleh Rasulullah SAW yang menenteramkan kebimbangan Sayidina Abu Bakar ketika bersembunyi di gua Thaur dengan katanya, “la tahzan innallaha maana – jangan takut, sesungguhnya Allah bersama kita!”

Rasa bertuhan inilah yang menyebabkan para nabi dan Rasul, mujaddid dan mujtahid, para mujahid dan murabbi sanggup berdepan kekuatan majoriti masyarakat yang menentang mereka mahupun kezaliman pemerintah yang mempunyai kuasa. Tidak ada istilah kecewa dan putus asa dalam kamus hidup mereka. Doa adalah senjata mereka manakala solat dan sabar menjadi wasilah mendapat pertolongan Allah. Firman Allah: “Dan pohonlah pertolongan dengan sabar dan solat.” Al Baqarah.

Dalam apa jua keadaan, positif mahupun negatif, miskin ataupun kaya, berkuasa ataupun rakyat biasa, tidak dikenali ataupun popular, hati mereka tetap tenang. Firman Allah: “Dialah Tuhan yang menurunkan ketenangan ke dalam hati orang yang beriman, supaya keimanan mereka makin bertambah daripada keimanan yang telah ada. Kepunyaan Allah tentang langit dan bumi, dan Allah itu Maha Tahu dan Bijaksana.” Al Fathu 4.

Bila hati tenang berlakulah keadaan yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW melalui sabdanya: Maksudnya: Amat menarik hati keadaan orang beriman, semua pekerjaannya baik belaka, dan itu ada hanya pada orang beriman: Jika memperoleh kesenangan, dia bersyukur. Dan itu memberikannya kebaikan (pahala). Jika ditimpa bahaya (kesusahan), dia sabar dan itu juga memberikannya kebaikan.” – Al Hadis.

  • Memahami maksud takdir Allah.

Mana mungkin kita mengelakkan daripada diuji kerana itu adalah takdir Allah SWT. Yang mampu kita buat hanyalah meningkatkan tahap kebergantungan kita kepada Allah di samping berusaha sedaya upaya menyelesaikan masalah itu. Ungkapan yang terkenal: We can’t direct the wind but we can adjust our sail – kita tidak mampu mengawal arah tiupan angin, kita hanya mampu mengawal kemudi pelayaran kita.

Kemudi dalam pelayaran kehidupan kita hati. Hati yang bersifat bolak-balik (terutamanya bila diuji) hanya akan tenang bila kita beriman kepada Allah – yakin kepada kasih-sayang, keampunan dan sifat pemurah-Nya. Dalam apa jua takdir yang ditimpakan-Nya ke atas kita adalah bermaksud baik sekalipun kelihatan negatif. Baik dan buruk hanya pada pandangan kita yang terbatas, namun pada pandangan-Nya yang Maha luas, semua yang ditakdirkan ke atas hamba-Nya pasti bermaksud baik.

Tidak salah untuk kita menyelesaikan masalah yang menimpa (bahkan kita dituntut untuk berbuat demikian), namun jika masalah itu tidak juga dapat diselesaikan, bersangka baik kepada Allah berdasarkan firman-Nya: “Ada perkara yang kamu tidak suka tetapi ia baik bagi kamu dan ada perkara yang kamu suka tetapi ia buruk bagi kamu, Dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan kamu tidak mengetahuinya” Surah Al Baqarah : 216 Seorang ahli hikmah, Ibn Atoillah menjelaskan hakikat ini menerusi katanya, “barang siapa yang menyangka sifat kasih sayang Allah terpisah dalam takdir-Nya, maka itu adalah kerana pen¬deknya penglihatan akal dan mata hati seseorang.”

Siapa tidak inginkan kekayaan, malah kita dituntut mencari harta. Namun jika setelah berusaha sedaya upaya, masih miskin juga, bersangka baiklah dengan Tuhan… mungkin itu caranya untuk kita mendapat pahala sabar. Begitu juga kalau kita ditakdirkan kita tidak berilmu, maka berusahalah untuk belajar, kerana itulah maksud Allah mentakdirkan begitu.

Kalau kita berkuasa, Allah inginkan kita melaksanakan keadilan. Sebaliknya, kalau kita diperintah (oleh pemimpin yang baik), itulah jalan untuk kita memberi ketaatan. Rupanya cantik kita gunakan ke arah kebaikan. Hodoh? kita terselamat daripada fitnah dan godaan. Ya, dalam apa jua takdir Allah, hati kita dipimpin untuk memahami apa maksud Allah di sebalik takdir itu.

Jadi, kita tidak akan merungut, stres dan tertekan dengan ujian hidup. Hayatilah kata-apa yang ditulis oleh Ibnu Atoillah ini: “Untuk meringankan kepedihan bala yang menimpa, hendak dikenal bahawa Allah-lah yang menurunkan bala itu. Dan yakinlah bahawa keputusan (takdir) Allah itu akan memberikan yang terbaik.”

Tadbirlah hidup kita sebaik-baiknya, namun ingatlah takdir Tuhan sentiasa mengatasi tadbir insan. Jangan cuba mengambil alih “kerja Tuhan” yakni cuba menentukan arah angin dalam kehidupan ini tetapi buatlah kerja kita, yakni mengawal pelayaran hidup kita dengan meningkatkan iman dari semasa ke semasa. Kata bijak pandai: “It’s not what happens to you, but it’s what you do about it. It is not how low you fall but how high you bounce back!”

  • Mendapat hikmah bila diuji.

Hikmah adalah sesuatu yang tersirat di sebalik yang tersurat. Hikmah dikurniakan sebagai hadiah paling besar dengan satu ujian. Hikmah hanya dapat ditempa oleh “mehnah” – didikan langsung daripada Allah melalui ujian-ujian-Nya. Ra¬sul¬ullah s.a.w. bersabda, “perumpamaan orang yang beriman apabila ditimpa ujian, bagai besi yang dimasukkan ke dalam api, lalu hilanglah karatnya (tahi besi) dan tinggallah yang baik sahaja!” Jika tidak diuji, bagaimana hamba yang taat itu hendak mendapat pahala sabar, syukur, reda, pemaaf, qanaah daripada Tuhan? Maka dengan ujian bentuk inilah ada di kalangan para rasul ditingkatkan kepada darjat Ulul Azmi – yakni mereka yang paling gigih, sabar dan berani menanggung ujian.

Ringkasnya, hikmah adalah kurnia termahal di sebalik ujian buat golongan para nabi, siddiqin, syuhada dan solihin ialah mereka yang sentiasa diuji. Firman Allah: Apakah kamu mengira akan masuk ke dalam syurga sedangkan kepada kamu belum datang penderitaan sebagai¬mana yang dideritai orang-orang terdahulu daripada kamu, iaitu mereka ditimpa kesengsaraan, kemelaratan dan ke¬goncangan, sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya merintih: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” (Surah al-Baqarah: 214) Pendek kata, bagi orang beriman, ujian bukanlah sesuatu yang negatif kerana Allah sentiasa mempunyai maksud-maksud yang baik di sebaliknya. Malah dalam keadaan ber¬dosa sekalipun, ujian didatangkan-Nya sebagai satu peng¬ampunan. Manakala dalam keadaan taat, ujian didatangkan untuk meningkatkan darjat.

Justeru, telah sering para muqarrabin (orang yang hampir dengan Allah) tentang hikmah ujian dengan berkata: “Allah melapangkan bagi mu supaya engkau tidak selalu dalam kesempitan dan Allah menyempitkan bagi mu supaya engkau tidak hanyut dalam kelapangan, dan Allah melepaskan engkau dari keduanya, supaya engkau tidak bergantung kepada sesuatu selain Allah. Apabila keempat-empat perkara ini dapat kita miliki maka hati akan sentiasa riang, gembira dan tenang dengan setiap pekerjaan yang dilakukan.

Sentiasa melakukan kerja amal, tolong menolong, bergotong royong, sentiasa bercakap benar, sopan dan hidup dengan berkasih sayang antara satu dengan lain. Marilah kita bersihkan hati kita dari segala kotorannya dengan memperbanyak zikrullah. Itulah satu-satunya jalan untuk mencari kebahagiaan di dunia dan di akhirat nanti. Manusia perlukan zikir umpama ikan perlukan air. Tanpa zikir, hati akan mati.

Tidak salah memburu kekayaan, ilmu, nama yang baik, pangkat yang tinggi tetapi zikrullah mestilah menjadi teras dan asasnya. Insya-Allah, dengan zikrullah hati kita akan lapang sekalipun duduk di dalam pondok yang sempit apatah lagi kalau tinggal di istana yang luas. Inilah bukti keadilan Allah kerana meletakkan kebahagiaan pada zikrullah – sesuatu yang dapat dicapai oleh semua manusia tidak kira miskin atau kaya, berkuasa atau rakyat jelata, hodoh atau jelita. Dengan itu semua orang layak untuk bahagia asalkan tahu erti dan melalui jalan yang sebenar dalam mencarinya. Rupa-rupanya yang di cari terlalu dekat… hanya berada di dalam hati sendiri

Mengapa mereka lebih baik

Usai solat Subuh Jumaat sering menghadiahkan detik terbaik untuk bermuhasabah. Kita undur selangkah ke belakang, untuk melonjak beberapa langkah ke hadapan. Merenung kesilapan dan kesalahan silam, betapa dungunya dan terburu-burunya sikap kita yang selalunya sangat merugikan.

Akibatnya, sering kita kehilangan sahabat terapat. Renggang dengan orang tersayang. Dan yang paling tragis kehilangan rasa hati yang lembut, halus dan beradab.

Namun, segera teringat kata-kata pengukuhan yang bersemi dalam hati (terutamanya akhir-akhir ini), “sebaik sahaja mengambil pelajaran daripada masa silam… lupakan dan pandanglah masa depan – yesterday ended last night!

Jika punya kesempatan carilah ruang untuk memohon maaf, memohon doa dan melakukan amalan-amalan baik sebagai penebus kesalahan silam. Jika tidak, bertekadlah untuk tidak mengulanginya. Jangan jadikan ia trauma yang menghalang pencapaian kita hari ini dan esok. Menyesal itu baik, tetapi ia bukan belenggu yang menghalang kita untuk mencipta kebaikan dan kecemerlangan baru.

Ya, pagi ini mentari masih bersinar, awan gemawan masih mewarnai dada langit dan udara masih dapat kita hirup seadanya. Alhamdulillah syukur… Apapun yang akan berlaku, asalkan kita dekat dengan Allah, lurus, tulus dan telus dalam hati, kesilapan kita akan diperbaiki. Bukankah kesilapan ini bukti yang kita masih manusia? Lalu kita akan selalu dan sentiasa memperperbaharui taubat. Come what may… pahit, kita belajar bersabar, manis… kita melatih diri bersyukur.

Hari ini dan hari-hari seterusnya pasti ada air mata dan ketawa, ada mudah dan payah, ada patah dan tumbuh, modal kita cuma satu, hadapilah segalanya sebagai hamba Allah. Mengaku lemah, untuk diperkukuhkan-Nya, mengaku jahil untuk diberikan ilmu, mengaku miskin untuk diperkayakan-Nya. Kita beruasaha melurus segala tadbir, agar mampu menerima setulus segala takdir. Sentiasa mengharapkan yang terbaik, tetapi terus bersedia untuk hadapi yang terburuk.

Pesan ku buat diri dan sahabat-sahabat, kekalkan taubat. Istighfar dan selawat jadikan basahan bibir. Bila terlintas dan terjebak dengan dosa, bertaubat dan terus ‘hukum’ diri dengan melaksanakan satu kebaikan walaupun yang kita tidak suka. Ingat, orang yang sentiasa berlatih untuk berjaya ialah dia yang melaksanakan sekurang-kurangnya 3 perkara yang tidak disukainya (walaupun sangat perlu) dalam satu hari.

Apakah 3 perkara itu? Mungkin minta maaf kepada orang yang kita tidak sukai, mungkin membuat aktiviti yang selama ini kita tangguhkan atau membuat panggilan kepada orang yang kita berhutang (sudah lebih masa tetapi belum berbayar). Carilah, carilah 3 perkara itu. Mungkin yang bersangkut dengan masa, harta, manusia atau dengan Allah. Ah, matahari telah cerah… mari kita melangkah. Tinggalkan segala resah. Pamitkan segala gelisah.

Hidup untuk memberi, bukan untuk membenci… siap siaganya untuk memberi senyuman, kebaikan, sedekah, kata-kata yang baik atau sekadar mendoakan.Memberi itu lebih membahagiakan daripada menerima. Tangan yang menghulur bunga mawar, pasti berbau harum. Jadilah tangan yang di atas, tangan yang selalu dan banyak memberi!

Ya, mentari kehidupan masih ada. Hari ini… esok? Belum tentu kita masih ada!

Oh, bagi sahabatku yang beberapa minggu dulu telah bertanya, aku hulurkan tulisan ini seadanya. Soalnya lewat SMS, “mengapa orang bukan Islam kekadang lebih jujur dan baik?” Dan inilah jawapanku sekadarnya…

“Aku hairan mengapa orang bukan Islam lebih jujur dan amanah daripada orang Islam?” kata seorang sahabat saya yang juga seorang jurutera. Saya diam. Memang ada kebenarannya jika dilihat selayang pandang.

“Awak lihat di negara-negara Barat, surat khabar dibeli hanya dengan meletakkan wang di dalam bekas di tepi jalan. Tidak ada orang mengelat untuk membayarnya.”

Cerita yang sama pernah saya dengar daripada kawan-kawan yang pulang dari London. Saya teruja dengan topik perbualan pagi itu. Mengapakah orang bukan Islam lebih baik perilakunya berbanding orang Islam? Jika benar, benarkah itu yang sebenarnya?

“Itu di Barat, cuba awak perhatikan di Jepun sewaktu dilanda tsunami baru-baru ini. Rakyatnya berbaris sewaktu menerima bantuan makanan. Peniaga menjual bateri yang sangat diperlukan sewaktu terputus bekalan elektrik dengan separuh harga. Nilai kemanusiaan mereka terlalu tinggi. Tidak ada sikap mengambil kesempatan dan mementingkan diri walaupun pada saat-saat kritikal. ”

“Kalau di negara-negara Islam?” tanya saya untuk menyemarakkan perbualan.

“Kita boleh lihat sendiri bagaimana umat Islam berebut-rebut mendapatkan bantuan makanan di kawasan yang dilanda bencana alam. Malu kita melihatnya. Di negara kita pun, apa kurangnya. Apabila ada kenderaan membawa makanan terlibat dengan kemalangan, penduduk sekitarnya berebut mengambil makanan yang bertabur. Itu bukan sahaja salah di sisi undang-undang dan etika tetapi haram di sisi agama.”

Saya terus mengangguk-angguk, mengiakannya. Saya masih teringat bagaimana seorang mufti pernah memberi amaran agar wang yang diambil dari sebuah kenderaan yang terlibat dalam kemalangan suatu ketika dulu dipulangkan kerana perbuatan mengambil wang yang bukan milik kita adalah haram.

“Mengapakah sikap orang bukan Islam lebih baik daripada kita orang Islam?” Sekali lagi pertanyaan itu diajukan kepada saya. Dalam diam, saya terus berfikir.

“Secara fitrahnya manusia dicipta dengan potensi kebaikan. Setiap insan dibekalkan Allah dengan benih kebaikan secara tabii. Cuba kita lihat dalam realitinya… ada individu yang secara semula jadinya pemurah, mudah simpati, penyayang berbanding individu yang lain. Manakala ada pula yang lebih berani, tahan lasak, gigih…”

“Tidak kira orang Islam dan bukan Islam?”

“Ya. Tidak kira sama ada dia orang Islam atau bukan Islam, sama-sama Allah bekalkan benih kebaikan yang ada dalam diri setiap manusia… ”

“Kalau begitu, manusia boleh jadi baik tanpa Islam? Jadi apa gunanya diutus para Rasul jika tanpa agama pun manusia sudah boleh jadi baik?” soalnya bertalu-talu.

“Para Rasul terutamanya Nabi Muhammad diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia. Begitu yang ditegaskan oleh Rasulullah s.a.w sendiri. Benih kebaikan yang diberikan sebelum ini ialah bekalan asasi daripada Allah untuk seorang insan menerima seruan kebenaran yang dibawa oleh para Rasul.”

“Menyempurnakan? Apakah yang dimaksudkan dengan perkataan ‘menyempurnakan’ itu?”

“Maksudnya, benih kebaikan pada diri manusia memang sudah ada. Kedatangan Rasulullah s.a.w. adalah untuk lebih menyuburkan benih kebaikan itu.”

Melihat dia termenung, saya menambah, “umpama sebiji benih, untuk membesar ia perlu diberi air, baja, cahaya dan dijaga daripada serangga perosak. Jika semua itu dibuat, barulah ia boleh membesar menjadi pohon yang baik, berdaun, berdahan dan akhirnya berbuah. Itulah maksudnya dengan menyempurnakan.”

“Tanpa kedatangan Rasulullah?”

“Benih itu boleh tumbuh juga tetapi tidak sempurna. Mungkin terbantut, tidak hidup lama dan mungkin mati sebelum berbuah. Maka begitulah sikap baik manusia tanpa pimpinan agama, akan mudah terhakis, tidak holistik, tidak tahan lama dan tidak tahan uji.”

“Maksud awak?”

“Mungkin ada orang yang baik dalam perkara-perkara tertentu, tetapi dalam perkara yang lainnya tidak. Orang Barat mungkin jujur dalam soal kewangan, tetapi tidak jujur dalam pergaulan lelaki perempuan. Perzinaan, homoseksual, lesbian dan bersekedudukan sudah menjadi kebiasaan, ” kata saya.

“ Orang Jepun pula mungkin baik daripada hubungan sosial dan kemanusiaan, tetapi kecundang daripada segi spiritual. Kejadian bunuh diri, buli dan stres berleluasa di kalangan masyarakat mereka. Tetapi konsep akhlak dalam Islam itu lebih menyeluruh dan sepadu, akhlak dengan Allah, dengan manusia, dalam ekonomi, sosial dan seluruh sistem kehidupan,” dia menambah.

Kemudian dia terus termenung. Keningnya berkerut, lantas berkata “tetapi…”

“Tetapi masyarakat Islam hari ini tidak begitu bukan?” ujar saya menangkap apa yang sedang difikirkannya.

“Ya. Kenapa?”

“Banyak dan besar bezanya antara masyarakat Islam dengan masyarakat umat Islam. Sekarang ini hanya ada masyarakat umat Islam.”

“Saya masih keliru, apa maksud awak?”

“Percayakah awak ramai orang Islam yang tidak mengamalkan sifat kejiranan, pentingkan diri, hidup nafsu-nafsi, minum arak, bergaul bebas, makan riba, tidak solat dan mengamalkan lain-lain kemungkaran? Kita nak namakan apa mereka tu, orang Islam?”

“Ya, memang tetap beragama Islam. Selagi mereka bersyahadah kita tidak boleh menuduh mereka kafir.”

“Betul, mereka tetap orang Islam. Jika mereka bermasyarakat, masyarakat mereka dinamakan masyarakat umat Islam. Tetapi bukan masyarakat Islam. Masyarakat Islam hanya terbentuk apabila setiap anggotanya mengamalkan hidup berpandukan syariat yakni peraturan Allah dalam semua bidang kehidupan…”

“Tadi awak kata sikap baik yang dibentuk berdasarkan tabii sahaja tidak tahan uji…cuba jelaskan,” ujarnya mengalih fokus perbualan kepada persoalan asal – mengapa orang bukan Islam lebih baik?

“Ya, mungkin atas dasar tabii seseorang boleh melakukan kebaikan selagi dibalas dengan kebaikan tetapi jika kebaikannya dibalas dengan kejahatan, dia tidak mampu lagi untuk bertahan atau ketulusannya akan terjejas.”

“Apa kaitannya semua ini dengan persoalan saya tadi, mengapakah orang bukan Islam lebih jujur daripada orang Islam sendiri?”

“Itu kerana faktor tabii individu yang lama-kelamaan menjadi budaya sesuatu bangsa, kelompok atau negara. Misalnya, orang Inggeris terkenal dengan budaya bersih, menepati waktu dan berterus terang. Itu budaya bangsa yang pada asalnya ialah tabiat individu. Namun apabila ramai individu dalam bangsa itu yang bersikap demikian dan diamalkan pula pada setiap masa dan keadaan, maka jadilah budaya bangsa tersebut. Al-hasil, budaya bangsa itu pun tersentuk secara ‘evolusi ‘dan ‘gradually’. Misalnya, bangsa Inggeris itu bersih, menepati waktu dan berterus terang.”

“Seperti budaya bangsa Arab yang cekal, menghormati tetamu dan berani. Bangsa Melayu yang sinonim dengan sikap lemah lembut, pemalu, ramah mesra dan mengenang budi. Bangsa Cina yang tahan menyimpan rahsia, sabar dan gigih berusaha. Bangsa Jepun yang terkenal dengan berani, berdisiplin dan bekerjasama. Itu semua berasal daripada sifat tabii individu yang kemudiannya membentuk budaya sesuatu bangsa. Itu maksud awak?” tambahnya.

Saya hanya mengangguk, alhamdulillah, dia cepat menangkap apa yang saya maksudkan.

“Namun, harus diingat, tanpa Islam budaya bangsa walau sebaik mana pun tidak akan mampu bertahan. Tambahan pula dalam arus globalisasi dan dunia tanpa sempadan ini. Penyebaran budaya Barat menerusi teknologi maklumat serta dasar neokolonialismenya yang terus-menerus melancarkan proses “homogenisasi” agar budaya hidup liberal diamalkan di seluruh dunia.”

“Saya terbaca, semangat generasi muda Jepun kini tidak sekental nenek moyang mereka dahulu. Generasi Cina yang ketiga juga khabarnya sedang mengalami kelembapan. Begitu juga generasi muda Melayu, sudah kurang adab dan rasa malunya… Budaya punk, rock dan lain-lain melanda remaja seluruh dunia. Nilai-nilai ini dianggap maju, moden dan dinamik. Nilai-nilai tradisional dianggap mundur, jumud dan statik.”

“Semua bangsa hakikatnya sedang mengalami hakisan budaya. Budaya kuning. Sekarang sedang berlaku coca-colonization, budaya hidup popular mengambil sempena jenama minuman popular Amerika, Coca-cola. Dengan ini, budaya hidup berdasarkan isme liberal kapitalis tajaan Amerika bercita-cita untuk melunturkan nilai-nilai tradisi semua bangsa di dunia. Penjajahan pemikiran dan budaya ini akan memberi keuntungan kepada Barat yang menjadi pengeluar utama produk-produk hedonisme ini.”

“Bagaimanakah kita menahannya?”

“Kembali kepada agama. Kita sempurnakan akhlak kita dengan wahyu dan hadis yang dibawa oleh Nabi Muhammad s.a.w, utusan Allah. Amalkan ajaran Islam bermula daripada diri, keluarga, masyarakat dan negara. Ayuh kita tegakkan hukum-hakam Allah bermula dari bidang sekecil-kecilnya, sampailah kepada yang sebesar-besarnya.”

“Ya, tetapi seperti yang saya katakan tadi, ada orang Islam yang lebih teruk perilakunya. Kadar rasuah negara Islam lebih tinggi daripada negara bukan Islam.”

“Maaf, negara umat Islam bukan negara Islam,” saya cuba mengingatkan.

“Ya. Maaf… negara umat Islam. Ini kerana kita orang Islam sendiri tidak berpegang dan mengamalkan ajaran Islam dengan serius. Kita cuma ada benih kebaikan, tetapi tidak menyubur dan menjaganya. Akhirnya, benih itu layu dan hampir mati. “

“Bagi orang bukan Islam?”

“Bagi bukan Islam, kekadang budaya bangsa atau tabiat baik individunya tetap dipelihara melalui kaedah penyuburan rasa cinta kepada nilai-nilai tradisi dan pengamalan disiplin hidup yang tinggi sejak kecil lagi, sama ada di dalam keluarga, sekolah-sekolah, organisasi atau masyarakat. Walaupun tidak sekukuh dan sesempurna kaedah Islam, namun itu lebih baik berbanding tidak ada usaha langsung.”

“Ya, masalah kita umat Islam, kita lepas kedua-duanya. Berpegang kepada ajaran agama pun tidak serius, berpegang kepada nilai tradisi bangsa pun tidak. Jadi benih kebaikan dalam umat Islam yang terbiar begitu sahaja,” ujar saya lagi.

“Jadi kebaikan orang bukan Islam hanya disebabkan kecintaan terhadap budaya mereka yang mampu dipertahankan hingga setakat ini?”

“Ya. Dan kelemahan kita umat Islam kerana budaya bangsa kita telah terhakis dan gagal memanfaatkan prinsip agama untuk membina dan menyuburkan semula budaya yang baik itu.”

“Maksud awak agama Islam itu satu budaya?”

“Tidak. Islam bukan ciptaan manusia. Jadi, ia bukan budaya. Tetapi jika hukum-hakam Islam diamalkan sebagai satu cara hidup, maka tertegaklah apa yang dikatakan budaya Islam. Contohnya, budaya Islam dalam menghormati tetamu, makan-minum, berpakaian, bergaul dan lain-lain. ”

“Budaya Islam tahan uji?”

“Ya, selagi orang yang mengamalkannya berpegang teguh kepada keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Bukankah budaya itu lahir daripada karakter masyarakat? Manakala karakter pula dilazimkan oleh kelakuan. Dan kelakuan lahir daripada sikap. Sikap dibentuk oleh sistem nilai yang berpunca daripada set minda atau pandangan hidup. Dan pandangan hidup itu lahir daripada keyakinan. Maksudnya, selagi keyakinan kukuh, selagi itulah budaya yang baik itu utuh. Keyakinan dalam ajaran Islam itulah iman atau akidah. Itulah asas dan teras budaya Islam.”

“Jadi budaya Islam kini terhakis kerana lemahnya iman?”

“Ya, lemah iman, lunturlah budaya Islam. Hanya orang beriman mampu menegakkan budaya hidup Islam. Sebab itulah dalam al-Quran, surah al-Hujurat ayat 14, Allah menegur orang yang mengaku beriman dengan firman-Nya yang bermaksud: “Katakan kamu belum beriman tetapi katakan kami telah tunduk yakni Islam kerana iman itu belum masuk ke hati kamu.”

“Jadi inilah yang menyebabkan kadangkala bukan Islam lebih baik kelakuannya daripada orang Islam sendiri…” katanya sambil mengangguk-angguk kepala.

“Jika umat Islam berpegang teguh kepada iman, karakter peribadi dan budaya yang terhasil lebih hebat daripada apa yang diamalkan oleh mana-mana bangsa pun di dunia sebelum, semasa dan sesudahnya.”

“Kenapa?”

“Kerana akar budaya kita lebih kukuh. Budaya Islam tertegak bukan kerana prinsip-prinsip luaran seperti keuntungan komersial, fanatik bangsa, kepentingan puak, kemegahan nama atau kuasa, tetapi atas dasar keyakinan kepada Allah dan hari Akhirat. Kita amalkan kebaikan kerana mengharapkan keampunan Allah dan syurga. Itu lebih ikhlas dan jujur. Berbanding kita buat baik kerana mengharapkan keuntungan ekonomi atau kuasa politik!”

“Maksudnya?” dia menyoal pendek.

“Ada orang jujur kerana dengan kejujuran, produknya akan lebih laku. Ada pekerja yang diminta senyum semasa melayan pelanggan kerana itu ada nilai komersial. Perkhidmatannya akan lebih laris. Ada yang menjaga kebajikan rakyat, hanya untuk mendapat undi dan mengekalkan kuasa. Itu tidak sejati. Jika produk tidak laku, perkhidmatan tidak laris, undi tidak bertambah? Bagaimana? Kita berhenti dan tawar hati untuk terus melakukan kebaikan?”

“Saya faham. Saya faham sekarang. Budaya kerja yang baik dan konsisten hanya didorong dari dalam. Bukan hanya soal ganjaran dan hukuman sahaja. Dan perbuatan baik kerana keimanan yang mendalam itu lebih tulus, konsisten, tahan uji,” katanya bersetuju.

“Sebenarnya, pernah muncul generasi Islam yang terbaik hasil didikan iman ini. Hingga kini mereka masih terbaik dan tidak dapat ditandingi oleh mana-mana kaum, bangsa dan negara.”

“Siapa? Bagaimana? ”

“Generasi sahabat Rasulullah. Dalam perang Yarmuk misalnya, beberapa orang sahabat Rasulullah s.a.w. mengalami luka yang cukup parah. Seorang sahabat yang bernama Ikrimah memberikan air kepada seorang sahabat yang rasa haus dan sakit walaupun dia mengalami rasa yang sama. Namun ketika sahabat itu mahu minum, terdengar suara rintihan dari seorang sahabat lainnya, maka dia mengisyaratkan agar memberikan air tersebut kepada sahabat yang lain. Begitulah, air itu diserah kepada seorang kepada seorang lain kerana merasakan orang lain lebih memerlukan, sehinggalah kesemuanya meninggal dunia kerana mengutamakan saudaranya yang lain.”

“Wah, itu lebih hebat daripada apa yang berlaku di Jepun!”

“Itu hanya tinggal sejarah. Tetapi itu satu fakta penting menunjukkan budaya hidup Islam lebih hebat. Bagaimana Umar Ibnu Aziz memadamkan lampu minyak kerajaan apabila anaknya hendak bercakap soal keluarga bukan soal negara, bagaimana Sayidina Abu Bakar memuntahkan susu yang dibeli daripada sumber yang syubhah. Ah, terlalu banyak…”

“Tapi kita hanya Islam pada nama… tidak pada jiwa. Iman belum masuk ke hati. Hingga dengan itu tidak menimbulkan keyakinan yang akan merubah pandangan hidup, sistem nilai, sikap, kelakuan, karakter dan personaliti seterusnya budaya umat Islam. Budaya Islam belum ada, budaya Melayu semakin layu… Padahal jika budaya Melayu yang baik disempurnakan oleh faktor iman, maka kita akan berjaya mengatasi mana-mana pun bangsa di dunia seperti yang dibuktikan oleh umat Arab dahulu. Bukankah mereka itu asalnya jahiliah tetapi akhirnya menjadi umat pembina empayar…”

“Jadi tugas kita sekarang memasukkan iman ke dalam hati umat Islam?”

Saya diam. Ya, itulah jalan yang paling benar,walaupun jalan yang paling sukar. Itulah jalan yang paling singkat,walaupun terasa amat berat….teringat ungkapan perjuangan yang pernah saya dengar suatu ketika dahulu.